BAHAYA GANJA SINTETIS
Ganja Sintetis adalah produk yang sengaja dibuat untuk memberikan efek menyerupai efek ganja. Ada beberapa jenis senyawa ganja sintetis yang ditawarkan, seperti AM-xxx, HU-xxx, JWH-xxx, & CP-xxx. Senyawa sintetis tersebut kemudian disemprotkan pada daun kering dan dikemas dengan nama Spice, K2, No More Mr. Nice Guy, Yucatan Fire, Bliss, Blaze, Skunk, Moon Rocks, dan lain sebagainya.
Seperti kita ketahui bersama, fenomena ini pun mulai muncul di Indonesia, beredad dengan berbagai nama, dan dianggap sebagai “versi murah” atau “versi legal” dari ganja (tidak tergolong sebagai senyawa ganja yang statusnya ilegal).
Oleh karena itu, ganja sintetis sama sekali berbeda dengan ganja alami. Ganja sintetis dapat menyebabkan agitasi, muntah-muntah, akikardia (jantung berdetak sangat cepat), halusinasi, paranoia, tremor, kejang, hipokalemia (rendahnya kalium dalam darah), nyeri dada, masalah jantung, stroke, kerusakan ginjal, psikosis akut, kerusakan otak, dan kematian. Jadi tolong diingat-ingat: meski namanya ganja sintetis, ini bukan ganja. Ia hanya dibentuk sedemikian rupa hingga ‘terasa’ seperti ganja. Maka seharusnya, hal ini tidak dianggap seperti ganja.
Hingga bulan Juli tahun 2015, Pusat Keracunan Amerika sudah menerima 4.377 pengaduan kasus karena ganja sintetis. WOW! Bahkan, di Facebook pun ada halaman khusus yang didedikasikan untuk membahas bahayanya produk ganja sintetis.
Label dalam produk ganja sintetis menyatakan bahwa mereka menggunakan ramuan herbal yang memiliki efek samping ringan seperti Verbascum Sinuatum (Mullein), Turnera Diffusa (Damiana), Althaea Officinalis (daun Marshmallow), Lactuca Virosa (Wild Opium),Mentha Arvensis (Mint liar), Calea Zacatechichi (Dream Herb), Matricaria Chamomilla (Chamomile), Canavalia Maritima (coastal jack-bean), Nymphaea Caerulea (blue Egyptian water lily), Scutellaria Nana (dwarf skullcap), Pedicularis Densiflora (Indian warrior), Leonotis Leonurus (lion’s tail/wild dagga), Zornia Latifolia (maconha brava), Nelumbo Nucifera (lotus), dan Leonurus Sibiricus (honeyweed). Namun, ketika produk tersebut diuji di laboratorium, DEA justru menemukan sintetik tokoferol dalam jumlah besar; bukan zat-zat yang dituliskan pada label.Menurut Barbara Carreno, juru bicara DEA (Drug Enforcement Administration), ada 400 jenis ganja sintetis yang beredar di pasaran. “Senyawa kimia berbentuk bubuk tersebut biasanya datang dari India tapi yang utama berpusat di Tiongkok. Ganja sintetis dikemas dalam jumlah kecil namun sangat kuat efeknya,” kata Carreno.
Mengapa ganja sintetis diciptakan? Jawabannya adalah untuk menghindari status hukum ilegal ganja yang asli atau biasa disebut “legal high“. Karena itu, menjadikan ganja sintetis sebagai substansi yang diciptakan khusus untuk disalahgunakan.Teknik membuat ganja sintetis begitu mudah. Cukup dengan melarutkan/menyemprotkan aseton yang dicampur dengan bubuk sintetis ke herbal kering (biasaya tembakau). Kita benar-benar harus menaruh perhatian serius karena sesungguhnya senyawa-senyawa kimia tersebut belum pernah di riset pada hewan maupun manusia.
Dr. Sherri Kacinko, seorang ahli racun dari NMS Labs di Willow Grove, Pennsylvania berkata, “Bercanda jika Anda akan menggunakan ini (ganja sintetis – Red.) Tolong beri tahu saya. Berikan saya contoh darah dan urin kalian karena kami tidak diperbolehkan menguji coba senyawa ganja sintetis ini kepada tikus sekalipun.”
“Tidak ada kualitas kontrol. Kami telah melihat kemasan K2 (salah satu merek ganja sintetis – Red.) yang terlihat identik namun mengandung zat yang sama sekali berbeda,” kata Kacinko.
Care Esperanza, seorang CEO, perawat, dan spesialis kecanduan berlisensi di Pusat Ketergantungan Acadiana di Lafayette, Louisiana, mengatakan bahwa efek ganja sintetis termasuk melongo, keterlambatan respon dan tidak bisa bergerak. Esperanza juga telah melihat pasien ganja sintetis menderita halusinasi yang berlangsung selama dua minggu (contoh: melihat kutu kasur yang tidak ada), hilangnya fungsi kognitif, dan kerusakan parah fungsi hati.
Tahun 1995, Profesor John W. Huffman, ahli kimia organik di Universitas Clemson, USA, meneliti efek senyawa ganja pada otak. Secara khusus beliau menemukan metode dan bahan-bahan yang digunakan untuk membuat senyawa ganja. Resep tersebut ternyata digunakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab untuk mereplika karyanya dan mulai menyemprotkannya ke bunga kering, tumbuh-tumbuhan maupun tembakau.
Dalam artikel yang diterbitkan oleh Forbes 28 Agustus 2014, Huffman mengatakan, “Orang-orang yang menggunakannya adalah (Maaf – Red.) idiot. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri anda.” Seseorang yang menggunakan 3 gram ganja sintetis setiap hari selama beberapa bulan menunjukkan gejala putus zat, mirip dengan gejala putus zat penggunaan Narkotika. Dokter yang menangani korban juga mencatat bahwa penggunaan ganja sintetis menunjukkan tanda-tanda yang terkait dengan kecanduan.
Satu kasus telah dilaporkan di mana pengguna, yang sebelumnya telah menderita masa psikotik karena penggunaan ganja berulang kali, menderita reaksi setelah menggunakan salah satu produk ganja sintetis. Psikiater yang menangani korban menyatakan bahwa mungkin karena tidak adanya senyawa non-psikotik dalam produk ganja sintetis, membuat ganja sintetis lebih kuat menginduksi psikosis daripada ganja alami.
Sebuah studi yang dimuat dalam The American Journal of Psychiatry menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan ganja sintetis dengan psikosis. Berbeda dengan sebagian besar substansi rekreasi lainnya, reaksi psikotik yang dramatis yang disebabkan oleh penggunaan produk ganja sintetis telah dilaporkan dalam beberapa kasus. Individu dengan faktor risiko untuk gangguan psikotik juga selalu disarankan untuk tidak menggunakan ganja sintetis. (SETIAP ORANG DILARANG MENGGUNAKAN, BUKAN HANYA YANG PUNYA PREDISPOSISI PSIKOSIS).
Mengapa efek ganja sintetis sangat bervariasi dan sangat beracun? Para peneliti menemukan bahwa ganja sintetis sangat berbeda dari ganja. Hanya namanya saja, ganja sintetis, yang memberi persepsi yang salah terhadap ganja.
- Efeknya jauh lebih keras di otak.
Salah satu alasan bahwa ganja sintetis dapat memicu segala sesuatu dari kejang sampai psikosis adalah bagaimana senyawa kimia ganja sintetis bekerja di otak. Tidak seperti bahan aktif dalam ganja, THC, senyawa ganja sintetis mengikat reseptor CB1 sebagai agonis penuh, sedangkan THC bersifat agonis parsial, artinya senyawa ganja sintetis dapat mengaktifkan reseptor CB1 pada sel otak dengan efisiensi secara maksimal, tidak seperti THC.
“Peraturan pertama toksikologi adalah, mengetahui dosis untuk bisa membuat racun,” kata Jeff Lapoint, MD., seorang dokter ruang gawat darurat dan toksikologi medis. “Saya minum secangkir air, dan baik-baik saja. Tapi jika saya minum se-galon air di dalam kontes meminum air, saya bisa kejang dan mati. Ganja sintetis dibuat untuk merangsang reseptor dalam otak, dan merangsangnya dengan sangat keras. Hal ini tidak terjadi dengan ganja. Cara kerjanya di otak mungkin mirip tetapi efek fisiknya sangat berbeda.”
Masalah dengan ganja sintetis adalah potensinya yang besar. “Kekuatannya bisa 100 kali lebih besar daripada THC,” kata Paul Prather, PhD, seorang profesor farmakologi dan toksikologi di Universitas Arkansas untuk Ilmu Kedokteran. “Dibutuhkan jauh lebih sedikit dari senyawa kimia untuk menghasilkan efek maksimal dalam otak. Dan ganja sintetis memiliki potensi yang jauh lebih besar. Hal ini jelas sangat berbeda dari THC dan dengan demikian tidak mengherankan bahwa penggunaannya dapat mengakibatkan efek samping yang berat dan mengancam jiwa.”
- Reseptor CB1 adalah di mana-mana di otak.
Alasan utama bahwa ganja sintetis dapat menghasilkan berbagai variasi efek samping karena reseptor CB1 ada di hampir setiap daerah otak. Bila ada senyawa kimia yang kuat yang mengikat reseptor otak engan kuat dan lama, maka efeknya akan sangat buruk.
Yasmin Hurd, PhD., Profesor Psikiatri, Farmakologi dan Sistem Therapeutics, dan Neuroscience di Pusat Kesehatan Mt. Sinai, mengatakan bahwa penyebaran reseptor CB1 di otak adalah persis mengapa senyawa kimia ganja sintetis sangat beracun. “Keberadaan reseptor CB dalam otak sangatlah penting, di hippocampus akan memberi efek pada kemampuan memori dan di daerah inisiasi kejang di temporal korteks yang dapat menyebabkan kejang. Dan di korteks prefrontal, yang dapat menyebabkan psikosis kuat dengan rangsangan senyawa ganja sintetis.” Efek pada jantung, pernapasan, dan efek gastrointestinal berasal dari reseptor CB1 di batang otak. Inilah yang menyebabkan resiko terbesar, kematian.”
- Overdosis ganja sintetis jelas sekali berbeda dari “overdosis” ganja
Bukti yang paling jelas adalah efek dari penggunaan ganja sintetis secara berlebih berbeda efeknya dengan efek ganja alami dengan dosis tinggi. “Secara klinis, mereka (perokok ganja – Red.) tidak terlihat seperti orang yang merokok ganja,” kata Lewis Nelson, MD, dari Departemen NYU of Emergency Medicine, Divisi Medis Toksikologi. “Pengguna ganja biasanya interaktif, santai, lucu. Semuanya sesekali mengalami pengalaman yang negatif dengan ganja, tapi hal tersebut hilang dengan cepat. Namun, mereka yang menggunakan ganja sintetis dosis, mereka terlihat seperti orang yang menggunakan amphetamine (produk turunannya ialah metamfetamin, zat utama dalam pembentukan sebuah obat rekreasional yang di jalanan lebih dikenal dengan nama sabu-sabu – Red.), kadang merasa marah, berkeringat, dan gelisah.”
- Tubuh manusia tidak tahu bagaimana untuk menonaktifkan senyawa sintetis.
Salah satu kemungkinan adalah bahwa proses metabolisme ganja sintetis juga melakukan pengrusakan otak. Biasanya tubuh kita mampu menonaktifkan senyawa ganja setelah memetabolisme senyawa ganja, namun hal ini tidak terjadi dengan senyawa sintetis. “Apa yang kami temukan dalam penelitian, bahwa metabolis ganja sintetis merekat pada reseptor seperti halnya yang dilakukan obat-obatan lainnya – yang tidak THC lakukan. Metabolit ganja sintetis relatif mempertahankan aktivitas penuh senyawa induk. Jadi kemampuan tubuh kita untuk menonaktifkan mereka kemungkinan akan menurun,” begitu penjelasan dari Prather.
- Tidak adanya kualitas kontrol.
Ganja sintetis yang dibuat di laboratorium bawah tanah, dan biasanya berasal dari negara Tiongkok. Satu-satunya hal dalam pembuatan senyawa ganja sintetis adalah tidak adanya kualitas kontrol. ‘Apakah K2 hari sama dengan K2 besok?’ Prather bertanya. “Tidak akan mungkin sama. Para pembuat senyawa ganja sintetis mengambil beberapa ramuan daun secara acak, dan menyemprotnya dengan ramuan ganja sintetis. Mereka mungkin menggunakan sprayer murah secara manual. Berapa banyak ganja sintetis yang terkandung? Anda tidak tahu berapa banyak yang Anda dapatkan.” Dia menambahkan bahwa selalu ada ‘hot spot’ yang hadir dalam senyawa sintetis tersebut, di mana senyawa kimia ini lebih pekat daripada yang lain. “Dan, hampir selalu ada lebih dari satu senyawa ganja sintetik yang terkandung dalam produk-produk ganja sintetis ini – biasanya empat atau lima senyawa yang berbeda.” Intinya, kita tidak tahu apa yang yang terkandung dalam kemasan ganja sintetis.
6. Kandungannya selalu berkembang.
“Mereka meniru jenis JWH [senyawa kimia ganja sintetis – Red.],” kata Lapoint. Ada ratusan bentuk JWH yang berbeda, dan senyawa ganja sintetis lainnya yang dirancang oleh laboratorium yang berbeda, dan yang berikutnya akan selalu ada yang baru untuk beredar. “Hanya membutuhkan ahli kimia lulusan tingkat sekolah untuk membuatnya,” katanya. “JWH pertama dalam campuran dupa ditemukan di Jerman sekitar tahun 2008 – itu adalah JWH-018 yang ada di ganja sintetis merek Spice. Butuh berbulan-bulan untuk pemerintah daerah mencari tahu kandungan apa yang ada di dalamnya dan meregulasinya. Minggu berikutnya ada dupa yang menyatu dengan senyawa lain, JWH-073, beredar. Mereka sudah menciptakannya dan mengedarkannya – dan mereka membuat sesuatu yang bahkan belum diilegalkan. Sejak kami mulai percakapan 10 menit yang lalu, kita sudah tertinggal.”
***
Apakah meregulasi ganja akan menutup industri ganja sintetis?
Permintaan untuk menggunakan ganja secara legal begitu besar hingga terciptanya industri ganja sintetis. Situasinya begitu sempurna. Pertama, kita menciptakan pasar gelap dengan mengilegalkan ganja. Lalu, ada banyak celah dalam hukum yang berlaku dimana Anda bisa mengkonsumsi suatu substansi setelah merubah satu molekul dan menyebutnya dengan nama yang berbeda. Pemerintah memerlukan waktu untuk mengejar ketinggalan meneliti substansi-substansi yang telah beredar. Dan disaat pemerintah meneliti, produk ganja sintetis baru lainnya terus bermunculan.
Menurut Jeff Lapoint, MD., seorang dokter ruang gawat darurat dan toksikologi medis, solusinya adalah tiga cabang: Pertama, dengan merubah undang-undang, dengan mengganti bentuk sistem yang mengatur ke sistem berbasis standar. “Sekarang pilihannya apakah kita menerapkan hukuman atau memuat undang-undang yang baru. Selalu akan ada celah. Jadi kita harus mengganti dasarnya. Kita perlu membentuk ulang undang-undang narkotika.”
Langkah kedua adalah dengan menginformasikan masyarakat, bahwa ganja sintetis dapat membunuh. Jangan berfikir ‘ini hanya ganja sintetis’, yang kenyataannya jelas berbahaya. “Anda bereksperimen dengan senyawa yang tidak diketahui, Anda adalah kelinci percobaan. Ini bukan senyawa kimia yang sama dengan ganja, komposisinya tidak sama meskipun mereknya sama. Secara medis, ganja sintetis sangat berbeda dari THC.”
Langkah terakhir, katanya, adalah untuk melanjutkan diskusi legalisasi. Sudah ada beberapa negara maju yang melakukan regulasi. “[Dengan menjadi lawan dari pendukung legalisasi-red] Anda harus bertanya pada diri Anda sendiri apakah Anda mendukung orang untuk mengalami hal yang menakutkan? Jawabannya adalah ‘YA’. Ini seperti situasi pelarangan alkohol dimana orang membuat gin dengan methanol di bathtub. Kita tahu orang-orang akan menggunakan ganja. Dan tidak ada atlet, tentara, mahasiswa, maupun sipir bersedia mendapatkan hasil positif untuk THC dalam drug test. Jadi mereka hanya menggunakan jenis yang ‘legal’. Dan ini sangat berbahaya!
Tentu saja, meskipun dianggap ‘legal’ namun ganja sintetis seharusnya tidak legal sama sekali, karena dapat menyebabkan masalah kesehatan yang sulit untuk sembuh dan kematian. Apakah legalisasi ganja yang sebenarnya adalah solusi untuk mengurangi peredaran ganja sintetis belum begitu jelas. Tapi beritahu anak-anak dan teman-teman Anda bahwa menjadi subjek manusia dalam percobaan ganja sintetik yang tidak dikontrol adalah hal yang bodoh. “Ganja sintetis tidak pernah dimaksudkan untuk digunakan pada orang,” kata Lapoint. “bahkan dicantumkan pada label kemasan, ‘Tidak untuk konsumsi manusia.’ Ironisnya, pernyataan itu adalah satu-satunya hal yang akurat pada label produk ganja sintetis. Ini bukan ganja. Dan seharusnya tidak dianggap seperti ganja. Kita harus beritahu masyarakat: Efeknya serius. Ini adalah substansi yang benar-benar berbeda.
Ini bukan ganja. Dan seharusnya tidak dianggap seperti ganja.
Lalu, apakah produk-produk yang beredar di Indonesia saat ini sama dengan produk ganja sintetis?
Dalam panduan online cara membuat ganja sintetis, cara paling jitu dan tidak menarik banyak perhatian umum untuk merokok ganja sintetis adalah dengan mencampurkan senyawa kimia tersebut kepada sesuatu yang sudah diterima oleh masyarakat: tembakau.
Di bagian luar kemasan, Gorilla, begitu salah satu produk ini menamakan dirinya, mengklaim bahwa produk mereka mengandung cengkeh, lion’s tail, dan wild dagga. Lucunya, lion’s tail dan wild dagga adalah nama lain dari tumbuhan yang sama!
Dari testimoni yang kami/penulis dapatkan, bahwa menggunakan Gorilla seperti susah untuk bergerak, lemas, sakit kepala, melongo, dan tremor. Dan pemakaian jangka panjang dilaporkan kasus nausea, stroke, bahkan kelumpuhan.
Lalu, apakah benar kandungan Gorilla benar-benar seperti yang diklaim dalam label kemasan mereka, 100% organik? Hal ini adalah tugas pemerintah/instansi terkait untuk meneliti apa sebenarnya kandungan Gorilla, mengingat ada 400 lebih senyawa ganja sintetik yang beredar dan bisa didapatkan dengan mudah secara online.
Seperti yang disebutkan diatas, bahwa ganja sintetis adalah sebuah produk yang dibuat untuk memberikan efek seperti menghisap ganja kepada si pengguna, dan berdasarkan penjelasan di atas maka bisa saja Gorilla ditempatkan dalam kategori produk ganja sintetis versi lokal.
Yang ingin kami tekankan disini, pertimbangkanlah kembali keputusanmu dalam bereksperimen menggunakan substansi yang belum jelas apa kandungannya. Sayangi diri kalian dengan tidak menggunakan substansi yang berpotensi merusak diri sendiri. Salam.
Komentar
Posting Komentar